Wednesday, October 26, 2005

Memahami Apa itu Silaturrahim.

Sempena 1 Syawal 1426 H.

"Tahukah anda tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturrahim, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan"
(HR Ibnu Majah).

Silaturrahim tidak sekadar bersentuhan tangan atau memohon maaf sahaja. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, iaitu aspek mentaliti dan ketelusan hati.

Hal ini sesuai dengan maksud silaturrahim itu sendiri, iaitu shilat atau washal, yang bererti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang bererti kasih sayang.

Makna menyambungkan, menunjukkan satu proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak bersambung. Menghimpun biasanya mengandungi makna sesuatu yang berselerak dan bertaburan, menjadi sesuatu yang bersatu dan kembali kukuh.

Rasulullah SAW bersabda, "Yang disebut bersilaturrahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturrahm itu ialah menyambungkan apa yang telah putus" (HR Bukhari).

Oleh kerana itu, menjadi sangat penting bagi kita untuk menyedari bahawa silaturrahim itu tidak hanya melalui gerak- geri tubuh, namun harus melibatkan aspek hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati, kita akan mempunyai kekuatan untuk berbuat lebih baik dan lebih bermutu daripada yang dilakukan orang lain terhadap kita. Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas kunjungan itu, ini tidak memerlukan kekuatan mental untuk berbuat demikian.

Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahim kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya, maka inilah yang disebut silaturrahim. Apatah lagi kalau kita bersilaturahim kepada orang yang membenci kita atau seseorang yang sangat mengelak pertemuan dengan kita, lalu kita merelakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahim yang sebenarnya.

Dalam sebuah hadis diungkapkan, "Maukah kamu aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada solat dan shaum?" tanya Rasul kepada para sahabat. "Tentu saja," jawab mereka. Baginda kemudian menjelaskan, "Engkau damaikan yang bertengkar, kembalikan persaudaraan yang terputus, pertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, hubungkan berbagai kelompok dalam Islam, dan kukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal soleh yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahim" (HR Bukhari Muslim).

Dari sini terlihat jelas, betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahim dan memperkuat nilai persaudaraan tersebut. Betapa tidak! Dengan silaturahim maka akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia, bahkan dengan makhluk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita.

Tapi sebaliknya, rahmat dan kasih sayang Allah akan jauh bila tali silaturahim sudah terputus di antara kita. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan".

Seorang sahabat yang bernama Abu Awfa pernah berkata. Ketika itu, kata Abu Awfa, kami berkumpul dengan Rasulullah SAW. Tiba-tiba beliau bersabda, "Jangan duduk bersamaku hari ini orang yang memutuskan tali silaturahim".

Setelah itu seorang pemuda berdiri dan meninggalkan majlis Rasulullah. Rupa-rupanya sudah lama ia memendam permusuhan dengan makciknya. Ia segera meminta maaf kepada makciknya, dan makciknya pun memaafkannya. Ia pun kembali ke majlis Rasulullah SAW dengan hati yang lapang. Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebencian dan rasa permusuhan. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di dalam masyarakat.

Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling bertegur sapa, saling menjauhi, apatah lagi kalau di belakang sudah saling tuduh-menuduh dan fitnah-memfitnah, maka rahmat Allah akan di jauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam kontek sebuah negara, bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling bermusuhan, saling fitnah-memfitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhuatiri bangsa tersebut akan semakin jauh dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Dari sini dapatlah kita fahami mengapa Rasul SAW tidak bertoleransi walau sekecil mana pun perbuatan yang boleh menimbulkan perpecahan dan permusuhan di dalam sebuah masyarakat.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Berhati-hatilah kamu terhadap prasangka, sebab prasangka itu sedusta-dustanya cerita. Jangan pula menyelidiki, mematai-matai, dan menjerumuskan orang lain. Dan janganlah saling menghasud, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba Allah yang bersaudara"
(HR Bukhari Muslim).

Silaturrahim adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terjalinnya silaturrahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Ini sangat penting. Sebabnya, sebesar mana pun umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada ertinya, laksana buih di lautan yang mudah dipukul gelombang, bila di dalamnya tidak ada lagi persefahaman dan kerja sama untuk mentaat segala perintah Allah SWT.
Wallahu a'lam bish-syawab.


Surau Al-Hijrah PPR Pekan Batu.
http://alhijrah.blogspot.com